Ketika kalut terungkap
Takut turut terkuak,
Terkait kata teruntai kalimat
Terekat ke kertas terantai ke tinta.
Komat-kamit terukir ketawa terusik
Kualat terusir kiamat tersingkir
Terakhir,
Takwa-tirakat kuat terangkat
Terima kasihku
‘Tuk puisi.
Jumat, 27 Juni 2008
Tentang Puisi
Berbekal Ironi

Seperti hari-hari Sabtu biasanya, saya membeli oleh-oleh kemudian naik angkot menuju salah satu halte di Semarang sebelum akhirnya naik bus patas Semarang-Solo menuju Salatiga. Begitu angkot tiba di depan halte, saya langsung mengambil posisi menunggu bus paling strategis agar terhindar dari ancaman suhu udara di Semarang yang sedang lucu-lucunya (baca: luar biasa panas!). Saya berdiri di bawah pohon besar yang ditanam di tengah-tengah sebuah restoran mewah, mahal, dan menggiurkan. Apalagi saat itu saya belum makan siang dan tidak membawa bekal roti seperti biasanya.
Sembari menunggu bus yang belum juga datang, sesekali saya memandangi bagian depan restoran tadi dan berangan-angan untuk bisa menikmati hidangannya suatu hari nanti tanpa harus terbebani tarif menunya. Dari angan-angan indah tadi muncul pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya. Saya penasaran apa saja pekerjaan orang-orang yang makan di situ supaya bisa makan sesukanya di berbagai tempat mahal. Saya juga ingin tahu apakah orang-orang seperti pedagang asongan atau tukang parkir yang mondar-mandir di samping saya waktu itu pernah makan di tempat semewah tadi.
Beberapa saat kemudian ada seorang laki-laki yang membawa kantong sampah besar tapi terlihat ringan berjalan keluar dari restoran tadi dan membuang isinya ke tempat sampah di dekat halte. Dari penampilannya yang memakai seragam, masker, dan sarung tangan, bisa disimpulkan dengan sederhana bahwa dia pasti adalah salah satu pelayan di restoran tadi. Kejadian sepele itu hanya saya lihat sekilas sambil tetap waspada kalau-kalau busnya hampir tiba. Namun apa yang terjadi setelah itu yang memaksa saya melihat bukan dengan sekilas lagi, tapi dengan pandangan seksama.
Kewaspadaan saya menunggu bus tenggelam ketika tiba-tiba gerak-gerik seorang tukang parkir dan temannya mengusik perhatian saya. Mereka berdua melangkah pasti ke arah pelayan yang sedang membuang sampah tadi dan mengucapkan sesuatu yang tidak terdengar jelas. Sesampainya di depan pelayan itu, kedua orang tadi memandangi isi kantong sampah yang sedang meluncur masuk ke dalam tempat sampah dengan penuh selidik dan tampaknya juga dengan penuh harap. Lalu yang paling mengejutkan, setelah pelayan tadi pergi, kedua orang itu mulai mengais-ais isi kantong sampah yang baru saja menemukan tempat yang seharusnya menjadi pelabuhan terakhirnya.
Sesudah melakukan analisis seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya, saya menyimpulkan bahwa orang-orang di sekitar restoran itu terbiasa menunggu dan menyeleksi sisa-sisa makanan yang dibuang, untuk kemudian mengambil materi yang masih agak pantas dikonsumsi. Mereka mungkin berpikir bahwa walaupun sudah tidak berguna dan dibuang, sisa makanan dari sebuah restoran bonafit seperti itu tentu levelnya tidak jauh berbeda dari makanan yang biasa mereka konsumsi. Walaupun kotor, tapi tetap lebih enak, mungkin itu yang mereka pikirkan. Ditambah lagi dengan kondisi tempat sampah yang terlihat bersih jika dibandingkan tempat sampah pada umumnya.
Setelah melakukan proses seleksi singkat, si tukang parkir akhirnya menyimpan seikat sawi yang dia temukan di dalam tempat pembuangan. Kalau saya lihat dari radius 4 meter, memang sawi tadi tampak berwarna hijau segar dan masih bersih, walau bila dilihat dari jarak 30 cm dengan mikroskop, sayur itu tidak akan tampak bersih lagi pastinya. Namun ada satu hal lagi yang menurut saya masih super kotor, yaitu kesenjangan sosial di negara ini!
Di satu tempat saja sudah tergambar jelas 3 penghuni lapisan ekonomi yang jaraknya saling berjauhan. Penghuni pertama ialah orang kaya yang terbiasa makan enak di restoran mewah tadi. Penghuni kedua adalah si pelayan yang terbiasa bekerja keras dan menerima gaji yang pas untuk menunjang hidup, hidup yang pas juga tentunya. Penghuni ketiga yaitu tukang parkir dan temannya yang juga memiliki penghasilan, tetapi penghasilan yang kurang memadai.
Tapi tunggu dulu, sepertinya ada yang terlewat. Ya! Bahkan masih banyak penghuni dari lapisan-lapisan ekonomi lain yang jauh lebih rendah dari tukang parkir tadi, dan yang jauh lebih tinggi dari orang kaya tadi. Mereka adalah orang-orang yang mungkin mengais-ais sisa makanan yang lebih busuk di tempat sampah yang lebih kotor atau mereka yang makan masakan lebih eksklusif di tempat makan yang lebih nyaman.
Meskipun bukan solusi masalah sosial-ekonomi di Indonesia, paling tidak ekspresi pengalaman ini bisa memberikan gambaran riil yang semoga bisa memacu kesadaran untuk lebih peduli terhadap lingkungan sosial. Di samping itu, dengan mencerna pengalaman ini saya lebih mampu menempatkan diri dalam situasi bangsa yang serba absurd ini.
Bertolak dari curahan pengalaman di atas, saya ingin bekerja mencari pengalaman dan sesuap nasi dulu seperti si pelayan restoran tadi, dengan bermimpi untuk menjadi orang kaya yang bisa makan semaunya di restoran mewah, tapi pastinya dengan tetap berorientasi demi membantu orang-orang seperti tukang parkir dan temannya tadi. Itulah penempatan diri versi saya.
Akhir cerita, bus patas yang saya nantikan tiba. Saya duduk santai dan lupa bahwa saya belum makan siang. Namun demikian saya merasa agak kenyang setelah membawa bekal kisah penuh ironi yang membangkitkan rasa mawas diri dan mengusik nurani dari sebuah halte yang meninggalkan memori.
Birth
6th of March is the date
When you have to meet your fate
To reborn like a jade
Which left its past trace
And form a new face
In beauty and grace.
When you have to meet your fate
To reborn like a jade
Which left its past trace
And form a new face
In beauty and grace.
Langganan:
Postingan (Atom)
