Selasa, 22 Juli 2008
Reborn
Today may be the day
When you finally find
The guiding ray upon your way
Which remind you to mind the right line.
On this July you may lay
A perfect dream on a new sheet,
At this birthday you may pray
For a better affair you want to meet.
Since on a new born baby
A new hope is laid,
So does on this reborn lady
A brighter life is being created.
Hikmah

Sayangnya setelah satu menit duduk di dalam bus, bukan hikmah yang saya temui, melainkan nyanyian parau seorang musisi jalanan. Karena hanya menyanyikan satu lagu dengan suara yang kurang menghibur, saya menghargai usahanya dengan uang senilai Rp 500. Mengenai hal ini, saya berprinsip untuk memberi penghargaan berupa uang kepada setiap pengamen di dalam bus yang sudah bekerja keras sebab tingkat pendidikan dan lapangan pekerjaan yang minim di negara tercinta ini memaksa sejumlah orang untuk berjuang di jalanan.
Sesudah pengamen tadi berlalu, saya kembali meneruskan aktivitas duduk dan termenung di deretan tempat duduk sebelah kanan. Saya terpaksa duduk di sisi ini karena deretan kiri yang terhindar dari buasnya sinar mentari sudah terisi penuh. Namun untungnya ada korden lusuh yang melindungi saya dari sengatan cahaya matahari. Tampaknya pemikiran untuk berlindung pada korden juga terlintas di benak seorang gadis lumayan manis yang duduk dua baris di depan saya. Saya mengetahuinya dari geliat tubuhnya yang tampak kepanasan dan lirikannya ke arah korden di samping saya yang jauh dari jangkauannya. Dengan respon kilat, saya mendorong korden ke arahnya dan diapun meraihnya sambil tersenyum ceria penuh rasa syukur. Jika ini hikmah yang dimaksud, sungguh singkatnya hikmah yang saya dapat.
Ketika tiba di daerah Jatingaleh, ada beberapa orang yang naik, termasuk seorang laki-laki paruh baya yang kemudian duduk di sebelah saya. Awalnya saya tidak menghiraukannya karena pada dasarnya saya memang bukan tipe orang yang suka beramah-tamah dengan orang asing. Namun keramahan orang itu saat mengajak saya berbincang berhasil meluluhkan kekakuan di antara kami. Seperti basa-basi pada umunnya, dia menanyakan tujuan dan kota asal saya. Lalu kenyataan bahwa kami sama-sama berasal dari Salatiga membuatnya tampak semakin antusias untuk mencurahkan pengalamannya hidup di Salatiga sebagai sopir jasa angkutan travel.
Beberapa menit kemudian, kebisingan suara mesin bus diambil alih oleh suara dua orang pengamen wanita yang mendendangkan 3 buah lagu pop, lagi-lagi dengan suara yang kurang menghibur. Saat mereka mendekat untuk mengumpulkan wujud apresiasi penumpang, saya yang hendak memberikan selembar uang Rp 1.000 dikejutkan oleh aksi laki-laki di sebelah saya tadi yang ternyata memberikan uang sebesar Rp 3.000 kepada mereka. Begitu pula ketika pengamen urutan berikutnya datang setelah menyanyikan sebuah lagu sendu khas Melayu, pria di sebelah saya memberikan Rp 2.000 sebagai bentuk apresiasinya, seribu rupiah lebih banyak daripada uang yang saya berikan.
Uniknya lagi, kompetisi model donasi tersebut masih berlanjut waktu seorang penjual permen jahe seharga Rp 1.000 per bungkus menawarkan dagangannya. Rencana matang saya untuk membeli 1 bungkus permen jahe digagalkan oleh laki-laki tadi yang ternyata membeli 3 buah permen, 1 untuk dia, 1 untuk saya, dan 1 untuk orang lain di samping saya. Alhasil, saya memakan permen jahe pemberiannya sambil meratapi kekalahan saya dalam persaingan aneh itu.
Kejadian ini membuat saya bertanya-tanya mengenai gajinya sebagai sopir jasa angkutan travel, mengenai falsafah hidupnya, dan mengenai apa saja yang mendorongnya untuk bertindak royal kepada para pengamen dan pedagang asongan. Namun apapun latar belakang sikapnya tadi, dia telah melakukan perbuatan baik yang sering terlupakan di zaman keterpurukan ini, yaitu beramal. Terlepas dari kebiasaan buruknya meludah di sembarang tempat, atau kesombongannya ketika memamerkan teman-teman premannya, di mata saya laki-laki tadi adalah satu dari sedikit orang yang memperhatikan nasib pejuang jalanan yang tentunya belum memiliki kesempatan untuk bekerja atau hidup dengan lebih layak.
Tidak terasa bus telah mendekati tempat tujuan sehingga saya bersiap untuk bergerak mencari celah mendekati pintu keluar. Ketika melewati laki-laki dermawan tadi, saya mengucapkan terima kasih banyak atas permen jahe pemberiannya. Setelah bersusah payah menembus kerumunan penumpang yang berjubel di dekat pintu, akhirnya saya merasakan udara segar dan terbebas dari atmosfer nikotin di dalam bus. Namun di depan pintu rumah, saya baru tersadar bahwa saya melupakan sesuatu sebelum turun dari bus. Seharusnya saya tidak hanya berterimakasih soal permen jahe saja kepada laki-laki tadi, tetapi juga atas hikmah sejati yang saya temukan dari tindakan budiman penuh kedermawanannya.
Rabu, 09 Juli 2008
Regret
My eyes are trapped inside your sight
My heart is trembling beside my pride
It is trimmed with colorful light
And turned into a perfect tide.
My life is threatened at the hours that no longer belong to ours
My mind is troubled when I got to forget what I want to get
It is translated into words
A twisted language called regret.
Warna-warni Pengamen Dalam Negeri
Di saat mendengarkan tembang yang sumbang dari anak kecil tadi, saya tersadar bahwa bukan hanya jumlah pengamen yang makin membanjir dari tahun ke tahun, tapi metode baru dalam mengamen dan tipe pengamen juga semakin bervariasi. Beberapa bulan sesudah munculnya pemikiran itu, dan beberapa menit sebelum saya menyusun karangan ini, terlintas di benak saya untuk membuat rangkuman kecil mengenai tipe-tipe pengamen yang manfaatnya akan saya sampaikan di akhir paparan opini ini.
Ada 3 tipe umum pengamen di Indonesia menurut observasi sederhana saya, yaitu pengamen yang bernyanyi, pengamen yang berisik, dan pengamen bertopeng. Masing-masing golongan masih bisa diklasifikasikan lagi menjadi beberapa macam. Saya akan mulai dari tipe pertama, yakni pengamen yang bernyanyi. Tipe ini dihuni oleh orang-orang yang mencari uang dengan cara menghibur orang lain melalui nyanyian. Pengamen yang serius dalam bekerja ini terdiri atas pengamen berbakat (memiliki bakat dalam bernyanyi dan bermusik), pengamen biasa (bersuara standard tetapi serius dalam bernyanyi), dan pengamen berjuang (memiliki musikalitas lumayan parah tapi berusaha sebisanya untuk menghibur orang).
Sebagai contoh, di tahun 2006 saya pernah menemui pengamen berbakat dalam bus ekonomi Semarang-Solo yang menyanyikan 6 lagu pop dengan kualitas suara yang layak tampil di ajang pencari bakat. Selain itu, mahasiswa jurusan seni yang sering mengamen bus juga bisa dikategorikan di sini. Pengamen biasa adalah jenis pengamen yang paling sering ditemui sehingga saya tidak perlu menjelaskannya lebih jauh. Sedangkan pengamen berjuang ialah mereka yang bersuara nyaris remuk atau bermusik agak ngawur tetapi berjuang sekuat tenaga agar tetap bisa menghibur. Walaupun merasa agak pusing setelah mendengar nyanyiannya, orang biasanya tetap menyumbangkan sejumlah receh untuk menghargai usaha mereka.
Selanjutnya tipe kedua adalah pengamen yang berisik, yaitu pengamen yang berusaha mencari uang dengan menyanyikan lagu yang ternyata malah mengancam kenyamanan calon penderma. Tipe ini terdiri dari mereka yang sengaja berisik (mengganggu pendengarnya agar cepat memberi uang sebagai biaya tutup mulut) dan yang kebetulan berisik (berkualitas rendah dan tidak mau berusaha).
Pengamen yang sengaja berisik luar biasa sering ditemui di berbagai rumah pribadi, toko, atau warung makan. Mereka umumnya bernyanyi dengan suara nyaring dan dekat dengan gendang telinga pendengar, serta bisa lenyap seketika setelah menerima receh. Orang biasanya cepat-cepat memberi uang agar terlepas dari kekejaman suara para pengamen sesat tadi. Sedangkan pengamen yang kebetulan berisik adalah mereka yang asal-asalan dalam berdendang. Misalnya, anak-anak kecil yang kebetulan hanya ingin bernyanyi setengah lagu, atau bapak-bapak uzur yang kebetulan tidak hapal lirik karena daya ingat menurun, atau orang malas dan tidak serius sehingga bernyanyi dengan aransemen yang patut diperdebatkan.

Lalu tipe terakhir ialah pengamen yang bertopeng. Bertopeng di konteks ini jangan dicerna sebagai makna denotatif semata, melainkan simbol tersirat dari profesi yang dieksplorasi orang bermoral rendah sebagai kedok semu akan identitas yang sejati. Kalimat di atas mungkin terlalu berbelit-belit (saya sendiri juga agak bingung memahaminya), sehingga langsung saja saya paparkan penghuni tipe ini.
Pengamen bertopeng yang pertama adalah preman. Dia biasanya bernyanyi singkat kemudian meminta uang dengan wajah garang dan sikap memaksa. Bahkan kadang mengata-ngatai mereka yang tidak mau memberi uang. Saya pernah mengalaminya ketika saya sedang terlelap lalu dibangunkan dengan kasar oleh seorang pengamen. Dia tampak marah mungkin karena mengira saya pelit dan pura-pura tidur. Padahal saya memang baru saja tidur nyenyak walau memang agak pelit pada saat itu.
Pengamen bertopeng kedua adalah pencopet yang mengamen agar identitasnya sebagai pemburu dompet dan HP tidak ketahuan. Contoh langsungnya belum pernah saya alami dan semoga tidak akan saya alami, tetapi pernah saya lihat di siaran berita salah satu TV lokal di Semarang. Di situ terlihat seorang pencopet yang berkedok sebagai pengamen dipukuli pengamen lain karena dianggap mencemarkan reputasi pengamen se-Jawa Tengah.
Kesemua eksposisi mengenai pengamen di atas tentu belum bisa melingkupi beraneka ragam pengamen Indonesia, tapi paling tidak bisa memberi gambaran akan wajah seniman jalanan tanah air yang mencerminkan perjuangan rakyat kecil dalam bertahan dari perekonomian bangsa yang terkapar. Atau bisa juga sebagai refleksi kreatifitas manusia dalam mencari celah di balik kokohnya tembok kesenjangan sosial yang membuat sial. Selain itu, lukisan singkat ini hendaknya bisa menjadi bahan pertimbangan mengenai musisi jalanan mana yang layak diapresiasi ikhtiarnya, dan pengamen mana yang seharusnya didoakan saja agar lekas bertobat.. Hal ini pula yang terjadi saat saya berangkat ke kampus dan berjumpa lagi dengan anak kecil pembagi amplop kosong tadi. Saya dihadapkan pada dilema bahwa jika memberi uang, mungkin dia bisa kecanduan dan tidak bisa lepas dari dunia perngamenan. Namun jika tidak diberi, saya was-was dia akan dendam dan memilih untuk bekerja di sektor maksiat atau di tipe pengamen ketiga. Setelah melalui proses berpikir singkat dan efisien, akhirnya saya menggajinya dengan uang Rp 1.000. Entah bagaimana dia akan menerjemahkan pemberian saya dan mengelola uang tadi, yang jelas untuk saat ini, hanya kontribusi uang Rp 1.000 itu yang mampu saya berikan. Semoga suatu saat saya bisa memberi “kail” sesuai dengan yang mereka butuhkan, bukan hanya sumbangan “ikan” seperti yang mereka inginkan sekarang.
Jumat, 04 Juli 2008
Gratitude
Thanks to the sun
for the warmth comes from its bright light
Thanks to the stars
for the peace comes from its gentle light
Thanks to you
for the beautiful light behind your smile.
Kamis, 03 Juli 2008
Lebih Sejuk dari AC

Semuanya berawal dari bus patas Semarang-Solo yang tak kunjung datang. Di siang hari yang amat sangat hangat seperti saat itu sebenarnya bus patas AC yang super sejuklah yang ingin saya pilih untuk pulang ke Semarang. Namun apa boleh buat, karena agak terburu-buru akhirnya saya memutuskan untuk naik bus kecil Salatiga-Semarang. Sesampainya di dalam, kekhawatiran saya terbukti. Semua tempat duduk sudah laku terisi sehingga saya terpaksa berdiri kepanasan bersama beberapa penumpang lain. Ya sudahlah, toh tarifnya juga jauh lebih murah daripada bus patas.
Sekitar 5 menit berlalu, pandangan saya masih saja tertuju pada motor-motor di sebelah kanan yang berlomba-lomba menyalip bus kecil yang mulai kelelahan. Atau memandang sekilas rumah-rumah warga yang mulai tampak monoton karena selalu saya lewati dan pandangi setiap minggunya. Sampai kemudian perhatian saya teralihkan ke Pak Sopir yang sedang berbicara kepada dua orang wanita di sebelahnya. Wanita yang paling dekat dengan sopir tampak agak kucel karena keringat yang bercampur asap kendaraan dan debu yang bercampur asap rokok. Di sebelahnya ternyata ada laki-laki kecil yang duduk tenang melihat ke depan seolah sedang memaknai hidup. Dan di bagian paling pojok ada wanita muda yang sedikit lebih modis dan rapi dibandingkan dengan yang pertama tadi. Lalu saya pikir ya sudahlah, paling-paling mereka sedang berbasa-basi.
Setelah beberapa menit berlalu, perhatian saya mulai lebih terfokus ke orang-orang di jajaran depan tadi. Hal ini karena perbincangan mereka menunjukkan aura keakraban tersendiri. Tawa-tawa kecil mulai menghiasi bibir sopir yang menghitam oleh rokok. Lalu tumbuhlah sejumlah perkiraan dalam benak saya. Saya menduga jangan-jangan si sopir sedang melakukan pendekatan ke wanita muda di pojok, atau mungkin mereka berempat adalah rekan bisnis yang sedang mengakrabkan diri demi kelancaran merjer bisnisnya. Akhirnya semua pertanyaan saya terjawab dan tebakan-tebakan bodoh saya terpatahkan ketika bus melewati daerah Tuntang.
Sebagai informasi tambahan, di daerah Tuntang di bagian kiri dan kanan jalan banyak sekali terdapat penjual mainan, peralatan dapur dari alumunium, makanan intip, dan layang-layang unik. Di saat bus terjebak macet karena pembangunan jalan, Pak Sopir menyuruh kernetnya yang masih muda untuk membeli salah satu layang-layang unik tadi. Setelah terbeli melalui proses tawar-menawar yang gagal, layang-layang itu diberikan kepada Pak Sopir yang kemudian diberikan kepada anak kecil yang diapit 2 wanita tadi. Dari sini saya baru sadar dan yakin bahwa keempat orang di jajaran depan bus itu adalah sebuah keluarga sederhana dan bahagia.
Menit-menit berikutnya berlalu dengan keakraban yang terlihat makin jelas di antara Pak sopir dan istrinya, seperti ketika dia mengambilkan air mineral untuk suaminya yang tampak kekurangan cairan dan kehilangan ion tubuh. Ketika sampai di daerah Karangjati, si istri menunjukkan gejala-gejala kalau dia akan turun di depan Pasar Karangjati. Entah karena mereka berdomisili di sekitar situ, atau hanya ingin berbelanja di situ, atau akan bertransaksi bisnis di situ, saya tidak tahu.
Sesampainya di depan pasar, mas kernet membantu wanita muda yang sepertinya adalah anak Pak Sopir tadi turun. Saat si istri dan anak laki-lakinya juga akan turun, dia mengatakan sesuatu bernada sindiran kepada mas kernet yang membuat saya sedikit geli. Intinya dia meminta agar mas kernet juga membantu anak laki-lakinya turun dan jangan hanya membantu anak perempuannya saja. Dilihat dari bahasa tubuhnya, tampaknya si kernet memang mencoba meraih hati anak perempuan Pak Sopir. Sinyal ini dianggap sebagai ancaman oleh Pak Sopir yang kemudian berkata kepada kernetnya untuk menjauhi anaknya, walau dengan nada bercanda.
Kisah ini mungkin terdengar sepele, sederhana, tidak spesial, atau justru monoton, tapi memang di situlah intinya. Pemandangan yang biasa-biasa tadi mampu membangkitkan perasaan damai tersendiri dalam kalbu saya. Jika dibandingkan dengan situasi di mana seorang sopir bergelut dengan kemudi agar bisa mengebut dengan ugal-ugalan sambil mengumpat, obrolan ringan keluarga sopir yang dibumbui tawa lirih dan gejala asmara dari kernetnya tentu jauh lebih menyenangkan untuk dilihat atau didengar. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa ekspresi keceriaan seseorang bisa menular ke orang lain di dekatnya.
Terlepas dari rutinitas merokok sopir dan para penumpang, atau berjubelnya penumpang dalam bus yang mini, atau ketidaknyamanan lain yang dirasakan saat naik bus kecil, atmosfer keharmonisan keluarga sopir tadi benar-benar bisa menyumbangkan kesejukan tersendiri. Fasilitas, keamanan, dan kenyamanan bus kecil memang sulit untuk diperbaiki, tetapi paling tidak bila semua sopir bersikap lebih santai dan ceria, semua kekurangan tadi niscaya bisa tertutupi.
Beranjak dari pengalaman di atas, kini saya tidak akan ber-underestimate lagi terhadap bus-bus kecil atau non-AC dan angkutan umum semacamnya. Tentu saja dengan tetap waspada akan kreatifitas dan kuantitas pencopet yang semakin berkembang dari tahun ke tahun, sebuah fakta memprihatikan yang perlu dicermati semua pihak.
Kembali ke cerita perjalanan saya naik bus, tak terasa kota Semarang telah menunjukkan kegarangan sinar mataharinya. Bus telah tiba di daerah RS Karyadi dan waktunya untuk turun. Ketika sudah turun saya baru menyadari sebuah hal yang agak mengejutkan. Tidak seperti saat awal naik bus dan setelah turun dari bus, sepanjang perjalanan tadi hawa di dalam bus terasa jauh lebih sejuk, bahkan mungkin lebih sejuk dari udara yang diproduksi oleh pendingin ruangan. Saya tidak menyangka naik bus kecil bisa jadi lebih sejuk daripada naik bus patas AC hanya karena ada keluarga harmonis di dalamnya.
Rabu, 02 Juli 2008
Bangsaku bukan Bangsaku
Hajar kepalanya, injak anunya
Tendang perutnya, tembak kakinya
Siapa dia?
Mahasiswa apa teman kita?
Lempari lagi, pukuli ini
Tarik ke sini, lalu kita hakimi
Siapa ini?
Polisi atau yang demonstrasi?
Siapa yang kena, mana yang terluka?
Di mana temanku, ke mana musuhku?
Akhirnya ketemu!
Anarkis, itulah wajah bangsaku
Vandalis, kelakuan oknum negeriku
Ironis, karena wajah bangsaku bukanlah nurani tanah airku.
