Rabu, 09 Juli 2008

Warna-warni Pengamen Dalam Negeri

Setelah terkantuk-kantuk selama sekitar 20 menit di dalam bus kota yang melaju lesu menuju kampus, tiba-tiba saya dibangunkan oleh suara anak laki-laki berpakaian lusuh yang membagikan amplop kecil kepada para penumpang. Dengan sisa rasa kantuk yang masih agak menyiksa, saya membaca tulisan di amplop yang berbunyi, “Mohon bantuannya, buat biaya makan dan membantu orang tua. Trima kasih.” Saya tidak heran lagi karena pada masa-masa itu saya sering mendapatkan pembagian amplop dari banyak pengamen cilik yang akan berdendang. Sebuah metode mengamen baru yang diharapkan bisa lebih menyentuh kalbu calon-calon donatur.
Di saat mendengarkan tembang yang sumbang dari anak kecil tadi, saya tersadar bahwa bukan hanya jumlah pengamen yang makin membanjir dari tahun ke tahun, tapi metode baru dalam mengamen dan tipe pengamen juga semakin bervariasi. Beberapa bulan sesudah munculnya pemikiran itu, dan beberapa menit sebelum saya menyusun karangan ini, terlintas di benak saya untuk membuat rangkuman kecil mengenai tipe-tipe pengamen yang manfaatnya akan saya sampaikan di akhir paparan opini ini.
Ada 3 tipe umum pengamen di Indonesia menurut observasi sederhana saya, yaitu pengamen yang bernyanyi, pengamen yang berisik, dan pengamen bertopeng. Masing-masing golongan masih bisa diklasifikasikan lagi menjadi beberapa macam. Saya akan mulai dari tipe pertama, yakni pengamen yang bernyanyi. Tipe ini dihuni oleh orang-orang yang mencari uang dengan cara menghibur orang lain melalui nyanyian. Pengamen yang serius dalam bekerja ini terdiri atas pengamen berbakat (memiliki bakat dalam bernyanyi dan bermusik), pengamen biasa (bersuara standard tetapi serius dalam bernyanyi), dan pengamen berjuang (memiliki musikalitas lumayan parah tapi berusaha sebisanya untuk menghibur orang).
Sebagai contoh, di tahun 2006 saya pernah menemui pengamen berbakat dalam bus ekonomi Semarang-Solo yang menyanyikan 6 lagu pop dengan kualitas suara yang layak tampil di ajang pencari bakat. Selain itu, mahasiswa jurusan seni yang sering mengamen bus juga bisa dikategorikan di sini. Pengamen biasa adalah jenis pengamen yang paling sering ditemui sehingga saya tidak perlu menjelaskannya lebih jauh. Sedangkan pengamen berjuang ialah mereka yang bersuara nyaris remuk atau bermusik agak ngawur tetapi berjuang sekuat tenaga agar tetap bisa menghibur. Walaupun merasa agak pusing setelah mendengar nyanyiannya, orang biasanya tetap menyumbangkan sejumlah receh untuk menghargai usaha mereka.
Selanjutnya tipe kedua adalah pengamen yang berisik, yaitu pengamen yang berusaha mencari uang dengan menyanyikan lagu yang ternyata malah mengancam kenyamanan calon penderma. Tipe ini terdiri dari mereka yang sengaja berisik (mengganggu pendengarnya agar cepat memberi uang sebagai biaya tutup mulut) dan yang kebetulan berisik (berkualitas rendah dan tidak mau berusaha).
Pengamen yang sengaja berisik luar biasa sering ditemui di berbagai rumah pribadi, toko, atau warung makan. Mereka umumnya bernyanyi dengan suara nyaring dan dekat dengan gendang telinga pendengar, serta bisa lenyap seketika setelah menerima receh. Orang biasanya cepat-cepat memberi uang agar terlepas dari kekejaman suara para pengamen sesat tadi. Sedangkan pengamen yang kebetulan berisik adalah mereka yang asal-asalan dalam berdendang. Misalnya, anak-anak kecil yang kebetulan hanya ingin bernyanyi setengah lagu, atau bapak-bapak uzur yang kebetulan tidak hapal lirik karena daya ingat menurun, atau orang malas dan tidak serius sehingga bernyanyi dengan aransemen yang patut diperdebatkan.


Lalu tipe terakhir ialah pengamen yang bertopeng. Bertopeng di konteks ini jangan dicerna sebagai makna denotatif semata, melainkan simbol tersirat dari profesi yang dieksplorasi orang bermoral rendah sebagai kedok semu akan identitas yang sejati. Kalimat di atas mungkin terlalu berbelit-belit (saya sendiri juga agak bingung memahaminya), sehingga langsung saja saya paparkan penghuni tipe ini.
Pengamen bertopeng yang pertama adalah preman. Dia biasanya bernyanyi singkat kemudian meminta uang dengan wajah garang dan sikap memaksa. Bahkan kadang mengata-ngatai mereka yang tidak mau memberi uang. Saya pernah mengalaminya ketika saya sedang terlelap lalu dibangunkan dengan kasar oleh seorang pengamen. Dia tampak marah mungkin karena mengira saya pelit dan pura-pura tidur. Padahal saya memang baru saja tidur nyenyak walau memang agak pelit pada saat itu.
Pengamen bertopeng kedua adalah pencopet yang mengamen agar identitasnya sebagai pemburu dompet dan HP tidak ketahuan. Contoh langsungnya belum pernah saya alami dan semoga tidak akan saya alami, tetapi pernah saya lihat di siaran berita salah satu TV lokal di Semarang. Di situ terlihat seorang pencopet yang berkedok sebagai pengamen dipukuli pengamen lain karena dianggap mencemarkan reputasi pengamen se-Jawa Tengah.
Kesemua eksposisi mengenai pengamen di atas tentu belum bisa melingkupi beraneka ragam pengamen Indonesia, tapi paling tidak bisa memberi gambaran akan wajah seniman jalanan tanah air yang mencerminkan perjuangan rakyat kecil dalam bertahan dari perekonomian bangsa yang terkapar. Atau bisa juga sebagai refleksi kreatifitas manusia dalam mencari celah di balik kokohnya tembok kesenjangan sosial yang membuat sial. Selain itu, lukisan singkat ini hendaknya bisa menjadi bahan pertimbangan mengenai musisi jalanan mana yang layak diapresiasi ikhtiarnya, dan pengamen mana yang seharusnya didoakan saja agar lekas bertobat.. Hal ini pula yang terjadi saat saya berangkat ke kampus dan berjumpa lagi dengan anak kecil pembagi amplop kosong tadi. Saya dihadapkan pada dilema bahwa jika memberi uang, mungkin dia bisa kecanduan dan tidak bisa lepas dari dunia perngamenan. Namun jika tidak diberi, saya was-was dia akan dendam dan memilih untuk bekerja di sektor maksiat atau di tipe pengamen ketiga. Setelah melalui proses berpikir singkat dan efisien, akhirnya saya menggajinya dengan uang Rp 1.000. Entah bagaimana dia akan menerjemahkan pemberian saya dan mengelola uang tadi, yang jelas untuk saat ini, hanya kontribusi uang Rp 1.000 itu yang mampu saya berikan. Semoga suatu saat saya bisa memberi “kail” sesuai dengan yang mereka butuhkan, bukan hanya sumbangan “ikan” seperti yang mereka inginkan sekarang.

Tidak ada komentar: