Kamis, 03 Juli 2008

Lebih Sejuk dari AC


Semuanya berawal dari bus patas Semarang-Solo yang tak kunjung datang. Di siang hari yang amat sangat hangat seperti saat itu sebenarnya bus patas AC yang super sejuklah yang ingin saya pilih untuk pulang ke Semarang. Namun apa boleh buat, karena agak terburu-buru akhirnya saya memutuskan untuk naik bus kecil Salatiga-Semarang. Sesampainya di dalam, kekhawatiran saya terbukti. Semua tempat duduk sudah laku terisi sehingga saya terpaksa berdiri kepanasan bersama beberapa penumpang lain. Ya sudahlah, toh tarifnya juga jauh lebih murah daripada bus patas.
Sekitar 5 menit berlalu, pandangan saya masih saja tertuju pada motor-motor di sebelah kanan yang berlomba-lomba menyalip bus kecil yang mulai kelelahan. Atau memandang sekilas rumah-rumah warga yang mulai tampak monoton karena selalu saya lewati dan pandangi setiap minggunya. Sampai kemudian perhatian saya teralihkan ke Pak Sopir yang sedang berbicara kepada dua orang wanita di sebelahnya. Wanita yang paling dekat dengan sopir tampak agak kucel karena keringat yang bercampur asap kendaraan dan debu yang bercampur asap rokok. Di sebelahnya ternyata ada laki-laki kecil yang duduk tenang melihat ke depan seolah sedang memaknai hidup. Dan di bagian paling pojok ada wanita muda yang sedikit lebih modis dan rapi dibandingkan dengan yang pertama tadi. Lalu saya pikir ya sudahlah, paling-paling mereka sedang berbasa-basi.
Setelah beberapa menit berlalu, perhatian saya mulai lebih terfokus ke orang-orang di jajaran depan tadi. Hal ini karena perbincangan mereka menunjukkan aura keakraban tersendiri. Tawa-tawa kecil mulai menghiasi bibir sopir yang menghitam oleh rokok. Lalu tumbuhlah sejumlah perkiraan dalam benak saya. Saya menduga jangan-jangan si sopir sedang melakukan pendekatan ke wanita muda di pojok, atau mungkin mereka berempat adalah rekan bisnis yang sedang mengakrabkan diri demi kelancaran merjer bisnisnya. Akhirnya semua pertanyaan saya terjawab dan tebakan-tebakan bodoh saya terpatahkan ketika bus melewati daerah Tuntang.
Sebagai informasi tambahan, di daerah Tuntang di bagian kiri dan kanan jalan banyak sekali terdapat penjual mainan, peralatan dapur dari alumunium, makanan intip, dan layang-layang unik. Di saat bus terjebak macet karena pembangunan jalan, Pak Sopir menyuruh kernetnya yang masih muda untuk membeli salah satu layang-layang unik tadi. Setelah terbeli melalui proses tawar-menawar yang gagal, layang-layang itu diberikan kepada Pak Sopir yang kemudian diberikan kepada anak kecil yang diapit 2 wanita tadi. Dari sini saya baru sadar dan yakin bahwa keempat orang di jajaran depan bus itu adalah sebuah keluarga sederhana dan bahagia.
Menit-menit berikutnya berlalu dengan keakraban yang terlihat makin jelas di antara Pak sopir dan istrinya, seperti ketika dia mengambilkan air mineral untuk suaminya yang tampak kekurangan cairan dan kehilangan ion tubuh. Ketika sampai di daerah Karangjati, si istri menunjukkan gejala-gejala kalau dia akan turun di depan Pasar Karangjati. Entah karena mereka berdomisili di sekitar situ, atau hanya ingin berbelanja di situ, atau akan bertransaksi bisnis di situ, saya tidak tahu.
Sesampainya di depan pasar, mas kernet membantu wanita muda yang sepertinya adalah anak Pak Sopir tadi turun. Saat si istri dan anak laki-lakinya juga akan turun, dia mengatakan sesuatu bernada sindiran kepada mas kernet yang membuat saya sedikit geli. Intinya dia meminta agar mas kernet juga membantu anak laki-lakinya turun dan jangan hanya membantu anak perempuannya saja. Dilihat dari bahasa tubuhnya, tampaknya si kernet memang mencoba meraih hati anak perempuan Pak Sopir. Sinyal ini dianggap sebagai ancaman oleh Pak Sopir yang kemudian berkata kepada kernetnya untuk menjauhi anaknya, walau dengan nada bercanda.
Kisah ini mungkin terdengar sepele, sederhana, tidak spesial, atau justru monoton, tapi memang di situlah intinya. Pemandangan yang biasa-biasa tadi mampu membangkitkan perasaan damai tersendiri dalam kalbu saya. Jika dibandingkan dengan situasi di mana seorang sopir bergelut dengan kemudi agar bisa mengebut dengan ugal-ugalan sambil mengumpat, obrolan ringan keluarga sopir yang dibumbui tawa lirih dan gejala asmara dari kernetnya tentu jauh lebih menyenangkan untuk dilihat atau didengar. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa ekspresi keceriaan seseorang bisa menular ke orang lain di dekatnya.
Terlepas dari rutinitas merokok sopir dan para penumpang, atau berjubelnya penumpang dalam bus yang mini, atau ketidaknyamanan lain yang dirasakan saat naik bus kecil, atmosfer keharmonisan keluarga sopir tadi benar-benar bisa menyumbangkan kesejukan tersendiri. Fasilitas, keamanan, dan kenyamanan bus kecil memang sulit untuk diperbaiki, tetapi paling tidak bila semua sopir bersikap lebih santai dan ceria, semua kekurangan tadi niscaya bisa tertutupi.
Beranjak dari pengalaman di atas, kini saya tidak akan ber-underestimate lagi terhadap bus-bus kecil atau non-AC dan angkutan umum semacamnya. Tentu saja dengan tetap waspada akan kreatifitas dan kuantitas pencopet yang semakin berkembang dari tahun ke tahun, sebuah fakta memprihatikan yang perlu dicermati semua pihak.
Kembali ke cerita perjalanan saya naik bus, tak terasa kota Semarang telah menunjukkan kegarangan sinar mataharinya. Bus telah tiba di daerah RS Karyadi dan waktunya untuk turun. Ketika sudah turun saya baru menyadari sebuah hal yang agak mengejutkan. Tidak seperti saat awal naik bus dan setelah turun dari bus, sepanjang perjalanan tadi hawa di dalam bus terasa jauh lebih sejuk, bahkan mungkin lebih sejuk dari udara yang diproduksi oleh pendingin ruangan. Saya tidak menyangka naik bus kecil bisa jadi lebih sejuk daripada naik bus patas AC hanya karena ada keluarga harmonis di dalamnya.

Tidak ada komentar: